"nda" Dream World
Laman
Beranda
Tumpahan Tinta
Lyric
Task
Minggu, 03 Februari 2013
Menggapai Secerca Harapan
Gadis itu menatap pecahan-pecahan piring dengan tatapan yang ksosong. Gelapnya ruanagn tersebut membuat suasana terasa mencekam. Sesekali suara segukan tangis terdengar dari salah satu ruangan. Detak jam yang terus berputar seolah ingin menunjukkan betapa keras suaranya. Langkah kaki yang peerlahan-lahan namun terasa ngat berat seolah menyadarkan lamunan gadis tersebut.
‘jangan mendekat! Berhenti di sana!’ teriaknya lantang
Dengan terhuyung-huyung orang atau lebih tepatnya anak kecil yang di hentaknya tersebut langsung berhenti dan menggenggam daun pintu yang berada di samping pintunya dengan erat. Ya suara sesegukan tersebut berasal dari bocah kecil tersebut. Rambutnya yang keriting berantakan. Dengan matanya yang bulat dan berisi air mata yang sudah hampir tumpah di tambah bajunya yang berantakan menunjukkan betapa sedihnya dia.
Masih dengan suasana yang sepi dan mencekam. Gadis itu mencoba membersihkan pecahan-pecahan tersebut dengan hati-hati dan membuangnya ke tong sampah. Tanpa sekalipun melihat atau melirik sang bocah yang terus memperhatikannya dengan wajah yang memerah.
Tanpa sang bocah itu sadari, gadis tersebut diam-diam menumpahkan setetes demi setetes air mata yang perlahan mulai megalir di pipinya yang tirus. Di gigitnya bibir mungil tersebut menandakan tak ingin seorang pun bahkan makhluk sekecil apapun yang tau kalau saat ini dia sedang menagis. Sesekali di usapnya air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Menarik nafas dalam-dalam dan mengatakan dalam hati ‘aku kuat! Aku bisa!’sambil tersenyum dengan penuh luka yang mendalam di hatinya.
Kini dia berdiri sambil membersihkan sisa air mata dan menatap atap-atap langit yang berwarna hitam dan di penuhi debu beserta sarang laba-laba. Dilirikya setiap sudut ruagan tersebut. Tapi tak ada satupun
warna cerah yang mengisi ruangan itu. Bagaikan hatinya yang kini kelam tanpa satu warna pun yang menghiasinya. Yang ada hanyalah luka-luka yang seolah tak akan bisa di sembuhkan dan berbagai hal yang ingin sekali diledakka begitu saja dari hatinya. Sesekali dai sadar hatinya sudah terasa begitu sakit dan sesak sampai-sampai rasa sakit itu terus menggores-gores hatinya apabila dia menangis dan mengingat semua apa yang terjadi.
Kembali menarik nafas untuk yang kesian kali dan membalikkan badannya. Menghadap seorang anak kecil yang masih menatapnya dengan tatapan yang nanar. Perlahan tapi pasti gadis itu mencoba tersenyum dengan lembut walaupun tatapan matanya masih terlihat kesedihan yang mendalam. Selangkah demi selangkah mencoba menghampiri bocah itu. Membungkukkan badan mencoba menyamakan tingginya dan menatap mata bocah itu secara mendalam. Di usapnya rambut keriting itu dengan penuh kasing saying. Seakan mencoba member kekuatan kepada bocah yang usianya belum mencapai 6 tahun. Belum selesai gadis itu mengusap kepalanya. Bocah itu langsung loncat ke dalam pelukan gadis itu dan kembali menangis.
Gadis itu tau saat seperti ini yang di butuhkan adiknya itu adalah pelukan hangat dari seseorang. Tanpa perlu mengucapkan apapun gadis itu langsung memeluk erat adik kecilnya itu. Mengusap punggung adiknya itu dengan perlahan dan lembut. Sambil terus menatap dengan tatapan kosong.
*
*
*
‘Braakkkkk..’
‘Praaaanngggg’
Bergitulah bunyi berbagai barang yang jatuh begitu saja ke lantai dan hancur berkeping-keping. Teriak-teriakan nyaring dari sepasang suami-istri terdengar dari ruangan tersebut. Suara isakan tangis turut member keramaian dalam pertengkaran tersebut. Beberapa kalitangan sang suami sempat melayang dan mendarat mulus di pipi sang istri. Tanpa menyadari kedua anak yang masih di bawah umur itu menatap dari balik pintu kamar.
Ya beginilah kehidupan sehari-hari keluarga kecil tersebut. Mereka tinggal di kampung kecil di bagian tengah kota metropolitan yang ramai dan sibuk. Rumah kontrakan yang hanya berisi 4 ruangan dan tanpa satu pu barang mewah terpampang di rumah itu. Satu-satunya barang yang bisa di jual dan terlihat berharga hanyalah sebuah tv 14 inc dengan layar yang cembung dan dua antena yang menempel di belakangnya. Selebihnya hanyalah barang using dan bekas yang sudah tak layak pakai.
Ksesehariannya sang suami hanyalah seorang pengangguran. Tanpa pernah berniat sedikit pun untuk mencari pekerjaan. Semenjak di pecat dari perusahaan tempat dia bekerja kehidupan yang di anggap pas-pas an itu kini semakin sulit. Jika bukan karna sang ibu bekerja sebagai buruh pabrik maka tak mungkin mereka masih mempunya sebuah tempat tinggal dan bisa hidup sampai sekarang. Maka tak jarang sang istri selalu mengomel dan bertengkar dengan sang suami. Sampai pada suatu hari
sang istri pulang dengan seorang lelaki lain menggunaan sebuah mobil mewah berwarna hitam. Terjadilah pertengkaran hebat, dan kini semakin hari semakin menjadi-jadi. Tak tahu apakah pertengkaran itu akan berhenti dengan sendirinya atau terus berlangsung tanpa henti.
“Kalau bukan karena anak-anak aku sudah pergi meninggal kau dari dulu!!!” teriak sang Suami
“HAI!! Seharusnya AKU yang mengatakan seperti itu!!!” Sang Istri Balas berteriak “ Utuk apaa aku hidup dengan pria pengangguran seperti kauuu!! Laki-laki tidak bergunaaa!!”
‘Plaaaaakkkkk’
Sebuah tamparan dengan tepatnya mengenai pipi sang Istri yang putih mulus. Sedetik kemudian sang Istri mengeluarkan air dari kedua matanya sambil memegang pipi kirinya yang kini terasa panas dan berdenyut-denyut.
“kalauuu kauu sekali lagi bicara seperti itu kepada suami mu! Kau akaan MATI!!” Ancam sang Suami.
Mata sang Istri kini terbelalak kaget mendengar ucapan sang Suami. Begini kah sikap seorang suami yang tidak menghargai istrinya yang sudah mencari uang demi mereka. Batinnya. Air mata terus mengalir tanpa henti dari ke dua mata sang Istri. Entah sejak kapan di tangan sang Istri sudah menggenggam sebuah piring. Sekejap kemudian piring tersebut sudah melayang hampir mengenai sang Suami. Untungya sang Suami lebih sigap dari keliatannya.
Kini dengan mata penuh amarah sang Suami berdiri tepat di hadapan sang Istri dan menarik kerah bajunya dengan kasar.
“apa kau cobaaa membunuh ku haa, Breng*ek!!” Teriak Sang Suami. “KAU benar-benar ingin MATI ya!”
Teriaknya tepat di depan wajah sang Istri.
Wajah sang istri berubah menjadi pucat pasi. Antara ketakutan dan sesak nafas akibat tarikan di kerah lehernya. Sang suami mengangkat tubuh isitrinya agak lebih tinggi membuat wajah mereka sejajar. Terlihat mata sang suami yang memerah dan nafas yang naik turun menahan amarah.
Sedetik kemudian sang sumi melempar istrinya begitu saja. Bagaikan seonggok sampah yang tengah di buang ke dalam sungai. Dia sang suami melepas ikat pinggang dari
celananya dan memberi sapuan pahit ke kulit Istrinya. Teriakan dan jeritan kepiluan terdengar keluar dari mulutnya. Entah sudah berapa kali Sang istri memohon ampun kepada suaminya, tapi bagaikan berbicara dengan sebuah batu besar. Ucapan dan teriakan mohon ampunnya sama sekali tak dihiraukannya.
“Ayahhh Hentikaannn..!!!” sebuah suara parau nan kecil bagaikan cicitan tikus langsung menghentikan pertengkaran tersebut.
Sang suami menatap anak gadisnya itu. Tatapan yang tidak bisa di artikan dengan kata-kata. Raut mukanya yang keras dan dingin seakan ingin menerkam gadis tersebut. Tapi tanpa di duga sang Suami melempar ikat pingangganya entah kemana lalu pergi begitu saja sambil mengucapkan umpatan-umpatan kasar. Meninggalkan sang Istri yang masih tergeletak di lantai dengan beberapa bekas merah di kulitnya yang putih.
Perlahan dengan kaki yang terseok-seok sang Istri bangun dan melangkah pergi ke luar rumah tabpa mengucapkan satu kata pun kepada kedua anaknya.
*
*
*
Gadis itu tengah sibuk membuat mie untuk sang adik yang tengah asik bermain di lantai dapur. Dari kejauhan samar-samar terdengar sebuah suara mobil. Perlahan semakin mendekat dan mendekat sampai pada akhirnya menghilang begitu saja tepat di depan rumahnya. Sang gadis menghentikan acara masak memasak itu. Terdiam mencoba memasang kedua telinganya baik-baik dan berharap bisa mendengar apa yang terjadi selanjutnya.
Kliikkkk…
suara pintu depan terbuka bersamaan dengan itu sebuah langkah kaki, oh bukan hanya sebuah tapi dua buah langkah kaki terdengar memasuki rumah tersebut. Langkah itu kini mengkilang dan terdengar suara bisikan-bisikkan halus yang hampir tidak terdengar. Beberapa barang yang bergeser pun sempat terdengar dengan jelas.
Dia tahu salah satu dari orang itu adalah ibunya. Dia pun tahu satu orang yang lainnya adalah laki-laki itu. Laki-laki yang memberi harapan dan membauat perasaan ibunya itu kini membaik.
------ TBC -------
*Money can't buy everything
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Posting Lama
Beranda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar